Acara reality
show di Indonesia terus menjamur dikalangan penikmatnya, mulai dari masalah
percintaan, pemutusan hubungan percintaan, hingga yang terbaru yaitu masalah
hutang perhutangan. Reality show ini
bernama Mikrofon Pelunas Hutang, yang merupakan acara yang diadaptasi dari
Thailand yang berjudul Mic on Debt Off.
Mikrofon Pelunas Hutang sendiri mengudara di televisi Indonesia mulai
17 april 2017 dengan durasi tayang selama 120 menit.
Acara
ini diyakini oleh pembuat dan penikmatnya sebagai acara yang membantu sesama, tetapi
disadari atau tidak acara ini juga memiliki beberapa kekurangan. Akan ada efek labelling kepada orang tersebut, dimana dia akan di cap sebagai
orang yang pernah memiliki hutang
walaupun bisa saja orang tersebut sudah tidak memiliki hutang lagi setelah acara tersebut. Acara
ini juga mengedepankan kesedihan dari para pesertanya mengupas upas kehidupan sang peserta sampai
dengan alasan mengapa mereka memiliki hutang. Seperti mengajarkan jika memiliki
hutang itu bisa dengan mengemis di acara ini bukannya mendidik untuk mandiri,
bagaimana cara berusaha atau bagaimana cara menghindari hutang dan pola
perilaku hemat, tetapi malah ditanamkan kemudahan untuk membayarnya dengan mengikuti acara ini.
Esensi
menyanyinya pun seperti hilang, karena yang menyanyi bukan karena mereka
menyukai apa yang mereka lakukan atau karena menyanyi ingin di dengar suaranya oleh
khalayak ramai namun se-sederhana menyanyi karena ingin menyelesaikan hutang.
Suara pas-pasan pun berani tampil di depan tv. Yang
ironis dari acara ini adalah ada bagian ketika memilih salah satu
microfon, ada
yang menyala ada yang tidak. Ketika mendapatkan mic yang tidak menyala
maka seperti menggosok kupon dengan tulisan “Maaf anda tidak beruntung,
coba lagi ya.” Kenapa harus dibegitukan? Orang kecil diberlakukan
seperti mainan. Ini niat menolong
apa sekadar menjual cerita demi rating semata?
Perbedaan
bendera negara, warna kulit, ras, agama, sampai tentang pola pikir dalam
memandang suatu hal bukan menjadi suatu penghalang untuk EP atau Exchange
Participants AIESEC in Bandung untuk berkumpul dan memeriahkan acara Global
Village Summer 2017 yang diselenggarakan pada tanggal 16 Juli 2017 di Click
Square Bandung dengan mengusung tema “Diversity in Harmony”. Global Village sendiri
dirancang oleh AIESECers, sapaan pengurus Aiesec. Lalu apakah itu AIESEC?
AIESEC adalah sebuah organisasi kepemudaan terbesar di dunia yang berada lebih
dari 120 negara di dunia. Di Indonesia sendiri AIESEC berada di beberapa
universitas di berbagai macam kota, khusus untuk di Bandung AIESEC ini terdiri
dari mahasiswa yang berasal dari ITB, Universitas Padjajaran, Telkom, UNPAR,
Maranatha, dan universitas lainnya. AIESEC memiliki tujuan untuk mencapai
kedamaian di dunia dan sebagai sarana pemenuhan potensi kemanusiaan. AIESEC
percaya bahwa dengan adanya pertukaran kebudayaan akan mencapai suatu kedamaian
dimana orang tidak lagi mempermasalahkan perbedaan namun menjadi pelajaran dan
pelengkap satu dengan yang lainnya.
Sesuai dengan tema yang
diusung yaitu “Diversity in Harmony”, para Exchange Participants dari 30 negara
berbeda seperti Algeria, Perancis, Korea Selatan, Mexico dan lainnya menjadi
sebuah harmoni dalam acara Global Village tersebut. Ya, Global Village, kita
seperti berada di sebuah desa dimana segala informasi dengan mudah didapatkan,
namun di global village ini yang kita dapatkan adalah informasi secara global.
Mulai dari sapaan dari setiap negara, pertunjukan baju tradisional setiap
negara, sampai tampilan kebudayaan dari beberapa negara. Tidak hanya itu saja
pengunjungpun bisa mengunjungi booth-booth
setiap negara untuk bisa berinteraksi secara langsung dengan Exchange
participant tersebut sembari mencicipi makanan khas dari negara asal mereka dan
tidak jarang booth-booth tersebut
menyediakan cinderamata langsung dari negara mereka.
Global Village ini sendiri diketuai oleh anggota Aiesec
Bandung, Devira Nur Maulina dan hanya dibantu oleh beberapa orang anggota
Aiesec Bandung. Walaupun kepanitiannya dalam jumlah yang kecil tapi tidak
berarti menyelenggarakan sebuah acara yang kecil juga. Terbukti acara Global
Village Summer 2017 ini menjadi event
yang besar untuk disuguhkan kepada warga Bandung. Terbukti lebih dari 150 orang
menghadiri acara ini dan memberikan komentar positif kepada salah satu
perhelatan terbesar Aiesec in Bandung ini. Seperti salah satu komentar “Keren
banget Global Villagenya, saya sangat senang, good job kepada seluruh panitia”. Ujar Regina Christi mahasiswi
Universitas Parahyangan. Selain itu ada komentar positif juga dari anggota
Aiesec Mexico, Mich Door “ I love it, it makes me so happy!”. Acara ini seperti
menjadi sindiran kepada situasi yang ada di Indonesia saat ini. Dimana perbedaan
menjadi alat yang digunakan untuk menjadi pemecah belah bukan menjadi pemersatu
bangsa. Perbedaan akan menjadi negatif jika dilihat dari kacamata yang negatif
pula, namun perbedaan akan menjadi positif jika dipandang dari kacama yang positif
pula. Seperti pemuda-pemuda yang berada di AIESEC ini memandang dengan kacamata
kepositifan sehingga perbedaan bukan sebagai penghalang tetapi sebagai pemacu
untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik di masa depan.