Senin, 02 Oktober 2017

Mikrofon Pelunas Hutang, sebuah Solusi ataukah sebuah Ironi?




Acara  reality show di Indonesia terus menjamur dikalangan penikmatnya, mulai dari masalah percintaan, pemutusan hubungan percintaan, hingga yang terbaru yaitu masalah hutang perhutangan. Reality show ini bernama Mikrofon Pelunas Hutang, yang merupakan acara yang diadaptasi dari Thailand yang berjudul Mic on Debt Off. Mikrofon Pelunas Hutang sendiri mengudara di televisi Indonesia mulai 17 april 2017 dengan durasi tayang selama 120 menit.
Acara ini diyakini oleh pembuat dan penikmatnya sebagai acara yang membantu sesama, tetapi disadari atau tidak acara ini juga memiliki beberapa kekurangan.  Akan ada efek labelling kepada orang tersebut, dimana dia akan di cap sebagai orang  yang pernah memiliki hutang walaupun bisa saja orang tersebut sudah tidak memiliki hutang  lagi setelah acara tersebut.
Acara ini juga mengedepankan kesedihan dari para pesertanya  mengupas upas kehidupan sang peserta sampai dengan alasan mengapa mereka memiliki hutang. Seperti mengajarkan jika memiliki hutang itu bisa dengan mengemis di acara ini bukannya mendidik untuk mandiri, bagaimana cara berusaha atau bagaimana cara menghindari hutang dan pola perilaku hemat, tetapi malah ditanamkan kemudahan untuk membayarnya dengan mengikuti acara ini.
Esensi menyanyinya pun seperti hilang, karena yang menyanyi bukan karena mereka menyukai apa yang mereka lakukan atau karena menyanyi ingin di dengar suaranya oleh khalayak ramai namun se-sederhana menyanyi karena ingin menyelesaikan hutang. Suara pas-pasan pun berani tampil di depan tv.
Yang ironis dari acara ini adalah ada bagian ketika memilih salah satu microfon, ada yang menyala ada yang tidak. Ketika mendapatkan mic yang tidak menyala maka seperti menggosok kupon dengan tulisan “Maaf anda tidak beruntung, coba lagi ya.” Kenapa harus dibegitukan? Orang kecil diberlakukan seperti mainan. Ini niat menolong apa sekadar menjual cerita demi rating semata?

-Oleh: Alya kananda

Berbeda Bukan Berarti Tidak Bisa Bersama “Global Village Summer 2017 AIESEC Bandung”

Oleh: Alya Kananda

Perbedaan bendera negara, warna kulit, ras, agama, sampai tentang pola pikir dalam memandang suatu hal bukan menjadi suatu penghalang untuk EP atau Exchange Participants AIESEC in Bandung untuk berkumpul dan memeriahkan acara Global Village Summer 2017 yang diselenggarakan pada tanggal 16 Juli 2017 di Click Square Bandung dengan mengusung tema “Diversity in Harmony”.
Global Village sendiri dirancang oleh AIESECers, sapaan pengurus Aiesec. Lalu apakah itu AIESEC? AIESEC adalah sebuah organisasi kepemudaan terbesar di dunia yang berada lebih dari 120 negara di dunia. Di Indonesia sendiri AIESEC berada di beberapa universitas di berbagai macam kota, khusus untuk di Bandung AIESEC ini terdiri dari mahasiswa yang berasal dari ITB, Universitas Padjajaran, Telkom, UNPAR, Maranatha, dan universitas lainnya.
AIESEC memiliki tujuan untuk mencapai kedamaian di dunia dan sebagai sarana pemenuhan potensi kemanusiaan. AIESEC percaya bahwa dengan adanya pertukaran kebudayaan akan mencapai suatu kedamaian dimana orang tidak lagi mempermasalahkan perbedaan namun menjadi pelajaran dan pelengkap satu dengan yang lainnya.
Sesuai dengan tema yang diusung yaitu “Diversity in Harmony”, para Exchange Participants dari 30 negara berbeda seperti Algeria, Perancis, Korea Selatan, Mexico dan lainnya menjadi sebuah harmoni dalam acara Global Village tersebut. Ya, Global Village, kita seperti berada di sebuah desa dimana segala informasi dengan mudah didapatkan, namun di global village ini yang kita dapatkan adalah informasi secara global. Mulai dari sapaan dari setiap negara, pertunjukan baju tradisional setiap negara, sampai tampilan kebudayaan dari beberapa negara.
Tidak hanya itu saja pengunjungpun bisa mengunjungi booth-booth setiap negara untuk bisa berinteraksi secara langsung dengan Exchange participant tersebut sembari mencicipi makanan khas dari negara asal mereka dan tidak jarang booth-booth tersebut menyediakan cinderamata langsung dari negara mereka.
 Global Village ini sendiri diketuai oleh anggota Aiesec Bandung, Devira Nur Maulina dan hanya dibantu oleh beberapa orang anggota Aiesec Bandung. Walaupun kepanitiannya dalam jumlah yang kecil tapi tidak berarti menyelenggarakan sebuah acara yang kecil juga. Terbukti acara Global Village Summer 2017 ini menjadi event yang besar untuk disuguhkan kepada warga Bandung. Terbukti lebih dari 150 orang menghadiri acara ini dan memberikan komentar positif kepada salah satu perhelatan terbesar Aiesec in Bandung ini. Seperti salah satu komentar “Keren banget Global Villagenya, saya sangat senang, good job kepada seluruh panitia”. Ujar Regina Christi mahasiswi Universitas Parahyangan. Selain itu ada komentar positif juga dari anggota Aiesec Mexico, Mich Door “ I love it, it makes me so happy!”.
Acara ini seperti menjadi sindiran kepada situasi yang ada di Indonesia saat ini. Dimana perbedaan menjadi alat yang digunakan untuk menjadi pemecah belah bukan menjadi pemersatu bangsa. Perbedaan akan menjadi negatif jika dilihat dari kacamata yang negatif pula, namun perbedaan akan menjadi positif jika dipandang dari kacama yang positif pula. Seperti pemuda-pemuda yang berada di AIESEC ini memandang dengan kacamata kepositifan sehingga perbedaan bukan sebagai penghalang tetapi sebagai pemacu untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik di masa depan.

Selasa, 21 Maret 2017

Do'a Juga Bisa Melindungimu



Do’a juga Bisa Melindungimu


 Oleh: Alya Kananda

  Membaca Al-Qur’an seperti yang kita ketahui setiap satu huruf yang dibaca maka setara dengan sepuluh kebaikan. Lalu jika membaca surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, Surat An-nas, Surat Al-Falaq, dan Surat Al-Ikhlas.  Berapa banyak kebaikan yang kita dapatkan?. Tentu saja banyak. Namun, bukan hanya seberapa banyaknya kebaikan yang kita dapatkan tetapi manfaat apa yang kita dapatkan setelah kita membaca surat-surat tersebut.

  Sebelum membagi cerita tentang pengalaman penulis mengamalkan ayat-ayat di atas, sebenarnya kapan saja kita bisa mengamalkan ayat-ayat tersebut?.  Sebenarnya kapan saja waktunya itu baik, tidak hanya kapan saja tapi juga dimana saja, dan pada kesempatan apa saja. Penulis pun berusaha mengupayakan seperti itu. 

  Biasanya penulis mempraktekkan ketika sedang menunggu bis untuk pergi ke kampus, agar proses menunggu itu tidak membosankan dan agar waktu menunggu penulis tidak sia-sia begitu saja maka penulispun membaca ayat-ayat di atas. Begitu pun di kendaraan, perjalanan dari kampus penulis dan rumah memakan waktu minimal satu jam dan hal tersebut lumayan untuk digunakan untuk mengamalkan ayat-ayat tersebut. Alhamdulillah setiap penulis berkendara entah itu membawa kendaraan sendiri maupun kendaraan umum penulis tidak lupa membaca doa tersebut dan hasilnya alhamdulillah perjalanan penulis pun tenang dan terhindar dari bahaya-bahaya yang ada. 

  Bahaya-bahaya dalam kendaraan? Iya dalam berkendara kita mungkin mendapatkan bahaya yang entah dari manapun berasalanya. Salah satu bahaya yang mungkin muncul adalah bahaya dari sesama manusia. Penulis hampir setiap hari pulang pergi ke kampus menggunakan kendaraan umum seperti bis, angkot, elf dan lain-lain. 

  Pada tahun 2016 penulis mengalami insiden satu angkot dengan kawanan pencuri, iya kawanan karena mereka bekerja bukan sendiri melainkan ada tim yang bermain dalam setiap pencurian di dalam sebuah kendaraan. Pada waktu pertama kali penulis berhadapan dengan pencuri di angkot ada korban yang dicuri hapenya yang duduk tepat di depan penulis. Hasil penulis menonton tv mengetahui bagaimana modus pencuri itu mencuri, penulis pun mengetahui dimana hape itu berada. 
 
  Kronologinya adalah seorang wanita yang merupakan korban duduk diimpit oleh kawanan pencuri yang membuat duduk wanita ini sempit sehingga korban menjadi tidak fokus lalu penulis melihat ada yang membuka tasnya dan mengambil hapenya lalu di transfer ke orang yang menghadap ke belakang posisi duduk dalam angkot. Ditransfernya melalui bawah tas ransel hitam. Salah satu cirinya adalah para pencuri ini memakai tas ransel yang ia simpan di depan sehingga jika ada barang curian bisa ditransfer melalui bawah tas tersebut. 

  Hal ini ada di televisi ketika penulis menonton salah satu cara sulap yang memperlihatkan bagaimana kawanan pencuri bekerja maupun dari sinetron preman pensiun. Kembali kepada cerita pencurian, penulis sudah mengetahui apa yang terjadi di dalam angkot tersebut. Segera penulis memberikan pemberitahuan kepada wanita di depan penulis dengan mengatakan “mba itu tasnya terbuka” penulis ingin ia cepat untuk menyadari bahwa hapenya sudah tercuri. Lalu ia pun akhirnya menyadari dan mengatakan bahwa hapenya  hilang. 

  Lalu penulispun cepat berkata “mba cepat di telepon” Penulis bisa saja langsung mengatakan bahwa hape tersebut ada di bapak tertentu tapi penulis tidak memiliki bukti. Penulis meminta mbanya cepat menelopon hapenya agar hapenya berbunyi dan akhirnya kita bisa menangkap pencuri tersebut. Namun, mba yang kecurian ini terlihat linglung dan tidak bergerak cepat dengan kondisi seperti itu. 

  Akhirnya penulis berupaya memberikan kode ekstrim dengan melihat ke mbanya dan memberikan pandangan ke bapak yang mencuri seperti kode bahwa yang mencurinya adalah bapak tersebut namun kunjung tidak mendapatkan respon. Dan akhirnya pencuri itu pun panik satu satu turun hingga tidak tersisa dan wanita tersebut benar-benar kehilangan hape nya.

 Ketika penulis menceritakan ini kepada teman-teman penulis teman-teman penulis menanyakan kenapa penulis begitu berani di depan pencuri, ada yang mengatakan jangan ikut campur dengan urusan orang, atau berkata nanti kalau kamu di apa-apain gimana, kalau di tusuk gimana, dan lain-lain. Penulis pun menjawab bahwa hidup dan mati ini milik Allah, dan jika sampai mati pun Insya Allah mati syahid karena berniat menolong orang lain . Tetapi tetap, penulis merasa tidak enak dan merasa kasihan kepada mba yang hapenya tercuri. Sebab penulis tidak berhasil menyelamatkan hapenya tersebut.  

  Kejadian kedua adalah ketika penulis di elf, tentu saja penulis tidak lupa untuk membaca doa tersebut. Lalu penulis dalam kondisi berdiri karena elf sedang penuh, pandangan penulis tidak tertuju kepada tas penulis namun tiba-tiba penulis mengenggam tangan orang yang mau membuka tas penulis, entah keberanian dari mana penulis dengan muka menantang mengatakan “mau ngapain ini?” Dia pun akhirnya kikuk dan membuat alasan “mau nyuruh duduk” padahal tidak ada kursi kosong dan seharunya jika ingin menyuruh duduk itu langsung bilang saja atau menepuk pundak atau tangan penulis bukan ke arah tas penulis. 

  Penulis pun membaca lagi doa dan memohon kepada Allah jika mereka adalah pencuri maka segera turunkan dari elf ini. Begitu doa penulis selesai langung turunlah tiga orang dari elf yang penulis curigai tadi di jalan sekitar cinunuk. Penulis pun tenang. Tetapi ketika penulis sampai di rumah penulis mendapatkan kabar teman dekat penulis hapenya tercuri ketika naik angkot dan pencuri tersebut naik di daerah cinunuk. Dengan waktu yang sama ketika penulis pulang. Dan ketika ditanya ciri-ciri dari pencuri tersebut sama dengan orang-orang yang penulis curigai di elf. Walaupun penulis tidak terkena curian tetapi penulis sedih karena teman penulis yang menjadi korbannya.
 
  Kejadian ketiga adalah kejadian dimana hanya penulis penumpang di angkot dan penulis melihat wajah pencuri yang penulis pernah temui, ingin rasanya penulis turun tapi akhirnya penulis hadapi sambil membaca doa di atas. Dan akhirnya pencuri tersebut menelepon temannya dan berkata “teu benang eui” atau dalam bahasa Indonesianya “engga kena nih”. Dalam hati penulis senang dan bersyukur kepada Allah SWT. 

  Itu hanyalah beberapa pengalaman penulis mengamalkan doa-doa di atas, pengalaman-pengalaman akan dirasakan pula oleh kawan yang mengamalkan do’a di atas. Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah SWT.


  Pada hal-hal yang penting pun penulis mempraktekkan doa ini. Ketika penulis merasa tidak enak badan atau ketika memijit ibu penulis penulis selalu memijit dengan membaca doa-doa tersebut. Hasilnya penulis memijit sambil mengeluarkan air mata, sesudah memijit pasti penulis selalu seperti orang yang baru menangis. Penulis pun pernah memijit teman penulis di kampus dan hasilnya sama penulis menguap dan sampai keluar air mata ketika memijit. Teman penulis yang lain mengatakan bahwa penulis memiliki tenaga dalam karena bisa memijit sampai seperti itu. Tapi Wallahu alam. 
 
  Tidak hanya kepada orang lain, tetapi jika penulis merasa tidak enak badan penulis melakukan hal ini kepada badan penulis. Bukan hanya gangguan seperti tidak enak badan bahkan penulis suka melakukan doa ini kepada badan penulis ketika penulis merasa ada hal ghaib yang menempel pada penulis. Bacaan ini juga bisa menjadi alat ruqiah untuk diri sendiri.
Cerita yang penulis bagikan hanyalah sedikit manfaat yang penulis rasakan setelah mengamalkan ayat-ayat tersebut. Manfaat yang lainnya pastilah sangat besar dan banyak sekali dan cerita tersebut akan beragam sebagaimana orang-orang mengamalkannya yang akan memberikan cerita-cerita tersendiri.