Demonstrasi? Masih Sesuaikah di Zaman Sekarang?
![]() |
Sebelumnya dalam momentum apa BEM SI melakukan aksi? Aksi tersebut dilaksanakan tepat dihari tiga tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla, 20 Oktober 2017. Seperti sebuah perayaan rutin yang harus dirayakan setiap tahunnya, BEM BEM sering kali melakukan aksi guna menagih janji sang pemimpin.
Di tahun yang ketiga ini apa saja yang menjadi tagihan mereka? Diantaranya adalah memaparkan bahwa investasi di Indonesia ini banyak dilakukan oleh investor asing dan didominasi oleh investor yang berasal dari Tiongkok, projek Meikarta dan hal-hal yang berurusan dengan investasi yang bukan dilakukan sendiri oleh masyarakat Indonesia.
BEM SI melakukan analisis terkait tuntutannya yang dituangkan dalam sebuah file. Tuntutannya yang paling menjadi sorotan adalah tentang pembangunan infrastruktur di Indonesia. Mereka mengiyakan bahwa pembangunan infrastruktur yang ada ini pesat tetapi menyayangkan mengapa didanai atau di ambil dari sumber hutang, menurut mereka pembangunan malah menyusahkan rakyat dengan bertambahnya beban hutang negara.
Hal fenomenal juga yang menjadi kekesalan mereka mengapa Presiden Joko Widodo tidak menghampiri masa yang sedang berdemonstrasi di depan istana. Seperti diketahui Presiden Joko Widodo pada saat itu sedang mengadakan kunjungan kepresidenannya Nusa Tenggara barat dan Cirebon. Selain itu BEM SI marah atas penangkapan mahasiswa sejumlah 16 orang, termasuk koordinator pusat BEM SI yang juga merupakan Presiden BEM UNS, Wildan.
Lalu apakah kata pihak yang kontra terhadap aksi BEM SI?. Pertama terkait tiga tahun masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, yang kontra pada aksi demonstrasi ini lebih kepada orang-orang yang merasa bahwa pemerintahan sekarang jauh lebih baik dari pemerintahan sebelumnya dan dapat melihat dampaknya kepada masyarakat sehingga menyayangkan apa yang dilakukan BEM SI kemarin. Ada juga yang berpendapat yang harusnya dikoreksi tidak hanya pemerintahan eksekutif tetapi yang harus lebih diperhatikan adalah pemerintahan yang ada di lembaga legislatif. Dimana netizen geram dengan beberapa politisi yang ada di Senayan, dimana ucapannya baik langsung ataupun di media sosial itu tidak menentramkan dan malah membuat kegaduhan tidak seperti politisi yang seharusnya.
Orang-orang yang kontra juga banyak yang merupakan mahasiswa-mahasiswa yang berkomentar dengan keilmuannya masing-masing. Ada anak ekonomi yang berpendapat bahwa analisis yang dilakukan oleh BEM SI tersebut datanya kurang kuat, contohnya tentang anggaran pendidikan, dimana dalam analisis BEM SI dikatakan bahwa dana pendidikan di Indonesia berkurang, padahal dana pendidikan tidak berkurang dan masih ada di angka 20% dari anggaran negara. Sehingga ada yang berkomentar analisis tersebut tidak bukan sebuah penggiringan opini semata.
Ada juga yang berpendapat seorang mahasiswa hukum bahwa seharusnya anggota demonstrasi mengikuti benar peraturan yang sudah ditetapkan dalam melakukan demonstrasi. Dimana izin demonstrasi tersebut hsanya sampai pukul 18.00 namun mengapa mereka masih bertahan sampai hampir tengah malam. Hal tersebut malah menimbulkan kerugiaan kepada kepolisiaan yang harus lebih mengawasi demonstrasi lebih dari waktu yang sudah ditentukan dan tentu saja berdampak menimbulkan kemacetan. Tidak hanya kemacetan namun akhirnya demonstrasi ini juga berakhir dengan ricuh, dengan ditangkapnya 16 mahasiswa tersebut. Lalu ada yang mengatakan jika ada orang yang melanggar undang-undang khususnya melakukan penghasutan atau melakukan kericuhan apakah tidak bisa ditangkap? Hanya karena dia seorang mahasiswa yang katanya membela rakyat? Siapapun dia dan statusnya tidak ada yang kebal hukum di negara Indonesia.
Ada juga yang berpendapat mengapa memangnya jika membangun dengan biaya hutang, lalu jika tidak dengan hutang mau dari mana lagi dananya? Menunggu sampai uang negara sendiri cukup, kalau tidak cukup-cukup lalu nanti tidak mulai-mulai pembangunannya lalu itu kan akan menjadi kesalahan lagi dari pemerintah. Mengapa tidak fokus saja kepada apa yang bisa kita lakukan sebagai rakyat contohnya untuk membantu pembangunan dengan melakukan wajib pajak.
Lalu sebenaranya apakah demonstrasi menjadi cara yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah di Indonesia? Kita bisa melakukan perubahan dengan perspektif yang lainnya. Tentang investor asing yang dikatakan menjadi raja di negeri kita. Jika itu menjadi sebuah ancaman maka kita harus membuktikan bahwa kita bisa mengatasi ancaman tersebut. Misalnya BEM di setiap universitas mengadakan edukasi dan project besar misalnya mendidik agar mahasiswa Indonesia semuanya tidak hanya berpikiran menjadi pegawai tetapi menjadi rajanya pegawai, membuka start up misalnya, bisa mendayagunakan masyarakatnya sendiri apalagi membuat start up yang ingin menyelesaikan permasalahan di Indonesia dengan menjadi social entrepreneur. Dengan sangat besarnya efek media sosialpun kita sebagai pemuda dengan semangat sumpah pemuda bisa melakukan campaign untuk menggunakan produk di dalam negeri sehingga pebisnis-pebisnis yang berada di Indonesia ini akan menjadi raja di negeri sendiri.
Terkait infrastruktur, walaupun pembangunan yang gencar dilakukan namun jika mindset orang Indonesia itu adalah tidak mau menggunakan kendaraan umum sebanyak uapapun infrastruktur yang ada dan dibangun itu tidak akan pernah menjadikan Indoenesia bebas dari macet. Itu juga yang menjadi tugas kita untuk mengubah mindset masyarakat Indonesia untuk mau menggunakan kendaraan umum atau menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan seperti sepeda.
Banyak sekali permasalahan di Indonesia ini yang solusinya tidak melulu harus berdemonstarsi, mungkin di zaman reformasi itu sangat efektif. Tapi kita harus melihat perkembangan zaman, berpikir dan bertindak lebih cerdas. Apakah kita ingin menjadi solusi atau sekadar mengkritisi dengan aksi yang mengikuti tradisi?.


















